Ibnu Bajjah
Biografi
Ibnu Bajjah yang memiliki nama lengkap Abu Bakar Muhamad bin
YahyaIbnu al- Sha’iq al- Tujibi al-Andalusi al-Samquti ibnu Bajjah. Beliau
dilahirkan di Saragosa, Andalusia pada tahun 475 H/1082 M, berasal dari
keluarga al-Tujibi yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajjah = emas), tetapi
di Barat ia lebih dikenal dengan nama Avance. Selanjutanya
pada tahun 512 H, Saragosa jatuh ketangan raja Alponso I dari Aragon, atas
kejadian ini, Ibnu Bajjah terpaksa pindah ke Seville. Di kota ini ia bekerja
sebagai dokter.[1]
Ibnu Bajjah banyak manulis tafsiran
mengenai falsafat Aristoteles. Bukunya yang terkenal ialah Tadbir
al-mutawahhid. Di dalam buku ini ia mengkritik pendapat al-Ghazali yang
mengatakan bahwa kebenaran itu dapat dicapai melalui jalan sufi. Menurut
pendapatnya bahwa unutk dapat mencapai kepada kebenaran seseorang harus
menempuh jalan filsafat. Selanjutnya ia mengatakan, bahwa unutk menapai
kebenaran, seseorang haru harus hidup menyendiri dengan meninggalkan
masyarakat yang selau mmentingkan materi. Di dalam filsafatnya,
Ibnu Bajjah juga membawa pemikiran tentang materi dan bentuk, Psikologi, akal
dan pengetahuan, Tuhan sumber pengetahuan, filsafat dan etika.[2]
·
Filsafat Ibnu Bajjah
Ibnu Bajjah adalah Ahli yang menyandarkan pada teori praktik
ilmu-ilmu mate-matika, astronomi, music, mahir ilmu pengobatan dan studi-studi
spekulatif seperti logika, filsafat alam dan metafisika.
Ibnu Bajjah menyandarkan filsafat dan logikanya pada
karya-karya Al-Farabi, namun metode yang penelitian filsafatnya benar-benar
lain dari metode penelitian Al-Farabi. Dia berurusan dengan segala masalah
hanya berdasarkan nalar semata. Dia mengagumi filsafat Aristoteles, itulah
sebabnya Ibnu Bajjah menulis uraian-uraiannya atas karya-karya Aristoteles.
Seperti juag filsafat Aristoteles, Ibnu Bajjah mendasarkan metefisika dan
Psikologinya pada fiska, karena itulah mengapa tulisan-tulisanya pnuh dengan
wacana-mengenai fisika.[3]
·
Epistimologi
Sebagai tokoh femula Filsafat islam di Dunia Barat, Ibnu
Bajjah tidak lepas dari pengaruh saudara-saudarnya, filsuf di Dunia Islam
Timur, terutama pemikiran Al-Farabi dan Ibnu Sina . dalam bukunya yang terkenal
Tadbir al-Mutawahhid,Ibnu Bajjah mengemukakan Theori al-Ittishal, yaitu bahwa
manusia mampu mampu dengan meleburkan diri dengan Akal Fa’al atas bantuan ilmu
dan dan pertumbuhan kekuatan insaniyah. Segala keutamaan budi pekerti mendorong
kesanggupan jiwa yang berakal, serta penguasaanya nafsu hewani. Dengan kata
lain manusia harus bersungguh-sungguh unutk berhubungan dengan alam yang tingi,
bersama masyarakat atau menyendiri dari masyarakat. Hal ini merupakam pengaruh
tasawwuf yang melebihi pengaruh Al-Farabi.
Berkaitan dengan teori ittishal inilah, Ibnu Bajjah juga
mengajukan satu bentuk epistimologi yang berbeda dengan corak yang dekemukakan
oleh Al-Ghazali di Dunia Islam Timur. Kalau Al-Ghzali berpendapat bahwa ilham
adalah sumber pengetahuan yang lebih penting dan lebih dipercaya, maka Ibnu
Bajjah mengkritik pendapat tersebut, dan menetapkan bahwa sesungguhnya
perseorangan mampu samapai kepada puncak pengetahuan dan melebur ke dalam Akal
Fa’al, bila ia telah bersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Kemampuan
menyendiri dan mempergunakan kekuatan akalnyaakan dapat memperoleh pengetahuan
dan kecerdasan yang lebih besar. Pemikiran insane dapat mengalahkan pemikiran
hewani, sekaligus pikiran inilah yang membedakan manusia dengan hewan. lebih
lanjut beliau menjelaskan bahwa pengetahuan yang didapatkan oleh akan, akan
membangun kepribadian seseorang. Untuk itu ada empat sebab, bentuk, materi,
agen, dan tujuan, yang harus diketahui oleh manusia unutk mengetahui
objek-objek pengetahuan, sehingga mencapai keimanan kepada Tuhan,
malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan akhirat.[4]
·
Metafisika
Menurut Ibnu Bajjah, segala yang ada (al-maujudat) terbagi
menjadi dua: yang bergerak dan yang tidak bergerak. Yang bergerak adalah jisim
(materi) yang sifatnya finite (terbatas). Gerak terjadi dari perbuatan yang
menggerakkan terhadap yang digerakkan. Gerakan ini digerakkan pula oleh gerakan
yang lain, yangakhir rentetan gerakan ini digerakkan oleh penggerak yang tidak
bergerak, dalam arti penggerak yang tidak berubah yang berbeda dengan jisim
(materi). Gerak jisim mustahil timbul dari substansinya sendiri sebab ia
terbatas. Oleh karena itu, gerakan ini mesti berasal dari gerakan yang infinite
(tidak terbatas), yang oleh Ibnu Bajjah disebut dengan akal.Kesimpulannya,
gerakan alam ini jisim yang terbatas digerakkan oleh akal (bukan berasal dari
substansi alam sendiri). Sedangkan yang tidak bergerak ialah akal, ia
menggerakkan akal dan ia sendiri tidak bergerak. Akal inilah yang disebut
dengan Allah (’aqlu ’aqil dan ma’qul); sebagaimana yang dikemukakan oleh
al-Faraby dan Ibnu Sina sebelumnya.
·
Materi dan bentuk
Menurut pandangan Ibnu Bajjah, materi (al-Hayula) tidak
mungkin bereksistensi tanpa bentuk (al-Shurat). Sementara itu, bentuk bisa
bereksistensi dengan sendirinya tanpa materi. Jika tidak, secara pasti kita
tidak mungkin dapat menggambarkan adanya modifikasi (perubahan-perubahan) pada
benda. Perubahan-perubahan tersebut adalah suatu kemungkinan dan inilah yang
dimaksud dengan pengertian bentuk materi. Pandangan Ibnu Bajjah ini diwarnai
oleh pemikiran Aristoteles dan Plato. Menurut Aristoteles, materi adalah
sesuatu yang menerima bentuk yang bersifat potensialitas dan dapat berubah
sesuai bentuk. Sementara menurut pandangan Plato, bentuk adalah nyata dan tidak
membutuhkan sesuatu pun untuk bereksistensi. Bentuk, menurut Plato, terdapat
diluar benda. Bentuk yang dimaksud Ibnu Bajjah mencakup arti jiwa, daya, makna,
dan konsep. Bentuk hannya dapat ditangkap dengan akal dan tidak dapat ditangkap
oleh panca indera. Bentuk pertama, menurut Ibnu Bajjah, merupakan suatu bentuk
abstrak yang bereksistensi dalam materi, yang dikatakannya sebagai tidak
mempunyai bentuk.[5]
·
Etika
Ibnu Bajjah membagi etika menjadi tindakan hewani dan
manusiawi. Yang pertama oleh karena kebutuhan-kebtuhan alamiah, yang bersifat
hewani sekaligus manusiawi. Makan misalanya dapat bersifat hewani sepanjang hal
dilakukan hanya unutk membutuhkan kebutuhan dan keinginan biologisnya, tetapi
makan itu dapat juga bersifat manusiawi sepanjang hal itu dilakukan unutk
menjaga kekuatan dan kehidpan emi meraih karunia spiritual.[6]perbedaan anatara
kedua pemabagiaan terebut, bagi Ibnu Bajjah bukan pada perbuatanya,
tetapi pada motifnya. Kalau didorong oleh nafsu hewani berarati perbuatan
hewani, tetapi alau perbuatanya itu didasarkan akal budi, maka hala itu adalah
perbuatan manusia.[7]
·
Politik
Pandangan politik Ibnu Bajjah dipengaruhi oleh pandangan
politik Al-Farabi. Sebagaimana Al-Farabi, dalam buku Ara’ Ahl al-Madinat
al-Fadhilat, ia (Ibnu Bajjah) juga memebagi negara menjadi negara utama
(al-Madinat al-Fadhilat) atau sempurna dan negara yang tidak sempurna, seperti
negara jahilah, fasiqah, dan lainnya.
Demikian juga tentang hal-hal yang lain, seperti persyaratan
kepala negara dan tugas-tugasnya selain pengatur negara, juga pengajar dan
pendidik. Pendapat Ibnu Bajjh sejalan dengan Al-Farabi. Perbedaanyya hanya
terletak pada penekanannya. Al-Farabi titik tekannya pada kepala negara,
sedangkan Ibnu Bajjah titik tekannya pada warga negara (masyarakat). Warga
negara utama, menurut Ibnu Bajjah mereka tidak lagi memerlukan dokter dan
hakim. Sebab mereka hidup dalam keadaan puas terhadap segala rezeki yang
diberikan Allah, yang dalam istilah agama disebut dengan al-qanaah. Mereka
tidak mau memakan makanan yang akan merusak kesehatan. Mereka juga hidup saling
mengasihi, saling menyayangi, dan saling menghormati. Oleh karena itu, tidaklah
akan ditemukan perselisihan antara mereka. Mereka seluruhnya mengerti
undang-undang negara dan mereka tidak mau melanggarnya.
Berbeda dengan AL-Farabi, dalam konsep politiknya Ibnu
Bajjah menambahkan adanya diantara masyarakat yang mutawahhid, yaitu uzlah
falsafi yang berbeda dengan uzlah tasawuf Al-Ghazali.
·
Tasawuf (manusiaPenyendiri)
Renan berpendapat bahwa Ibnu Bajjah memiliki kecenderungan
kepada tasawuf, tapi tentu salah ketika dia menganggap bahwa Ibnu Bajjah
menyerang al-Ghozali karena ia menandaskan intuisi dan tasawuf. Sesungguhnya,
Ibnu Bajjah mengagumi al-Ghozali dan menyatakan bahwa metode al-Ghozali
memampukan orang memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, dan bahwa metode ini
didasarkan pada ajaran-ajaran nabi suci. Sang sufi menerima cahaya di dalam
hatinya. Cahaya di dalam hatinya ini merupakan suatu spekulasi, yang lewat spekulasi
itu hati melihat hal-hal yang dapat dipahami seperti orang melihat obyek yang
tertimpa sinar matahari lewat penglihatan mata, dan lewat pemahaman hal-hal
yang dapat dipahami ini dia melihat semua yang melalui implikasi mendahului
mereka atau menggantikan mereka.[8]
·
Kebenaran
Menurut Ibnu Bajjah, unutk memperoleh kebenaran, mansia
harus melaui kebenaran itu sendiri. Unutk sampai ketingkat itu alatnya adalah
filsafat murni. Dengan filsafat murni inilah manusia dapt memebersihkan
dirinya dari pengaruh-pengaruh luar. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengasingkan dirinya.
Bagi manusia, kebenaran dapat dicapai dengan pikiranya
sendiri, setelah lepasa dari sifat-sifat hewani. Tingkat ini disbut oleh Ibnu
Bajjah dengan istilah Mutawahhid. Mutawahhid dapt diartikan sebagai
penyendirian (‘Uzlah). Melalui mutawahhid inilah manusia akan mandapatkan
ketenangan.
·
Pengetahuan
Ibnu Bajjah menyatkan bahwa pengetahuan dapt diperoleh
dengan menggunakan metode eksperimen (percobaan), percobaan ini dilakukan lewat
perasaan (indera). Tetapi dilain pihak Ibnu Bajjah menyatakan, pengamatan
inderawi semata-mata belum cukup unutk mendapatkan kebenaran dan masih
harus ditingkatkan lebih lanjut ketingkat pengamatan akal (rasio). Mengenai
Tuhan sendiri dapt diketahu manusia melaui filsafat, manusia dengan berfilsafat
akan dapat memahami (ma’rifat) tentang TUhan Ynag Maha Esa.[9]
Karya
Di antara
karya Ibnu Bajjah yang terpenting adalah:
·
Risalah al- Wada’, berisi tentang penggerak pertama bagi
wujud manusia, alam, serta bebrapa uraian mengenai kedokteran.
·
Risalah Tadbir al-Muwahhhid (Tingkah Laku Ynag Penyendiri),
kitab ini mirip dengan kitab Al-Farabi, yakni yang berjudul, di dalam
kitab inilah beliau menuangkan pemikiranya.
·
Kitab an-Nafs, berisi keterangan mengenai kegemaran Ibnu
Bajjah, yakni pemusatan dalam batas kemungkinan persatuan jiwa manusia dengan
Tuhan, sebagai aktivitas yang tertinggi dan kebahagaiaan yang tertinggi, yang
merupakan tujuan akhir dari wujud manusia
·
Risalah al-‘Ittishal al-‘Aql bi al-Insan(hubungan akal
dengan manusia).[10]
Daftar
Pustaka
o Nasution, Hasymsyah, M.A., Fiasafat
Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet. III 2000
o Nata, Abuddin, M. A., Ilmu Kalam
Filsafat dan Tasawuf Jakarta: PT. RajaGarpindo Persada, Cet. IV, 1998
o Mustofa, H.A., filsafat Islam,
Bandung: Pustaka Setia, Cet. I, 2004
o Amien, Miska Muhammad, “Epistimologi
Islam”, Jakarta: UI Press, Cet. I 1983
Comments
Post a Comment