Rasionalisme Kritis
Rasionalisme Kritis
Aliran pemikiran yang dipelopori dan dibangun oleh Popper, disebut olehnya dengan terma Rasionalisme Kritis. Dalam satu terme tersebut, terkandung dua terma yang berbeda, yakni Rasionalisme dan Kritis. Untuk mengkaji lebih dalam mengenai Rasionalisme Kritis, akan lebih baik apabila diawali dengan membahas makna dari kedua terma tersebut.
Rasionalisme adalah paham atau aliran pemikiran yang menekankan bahwa ilmu pengetahuan selalu berkaitan erat dengan akal. Dalam arti sempit, rasionalisme dapat diartikan sebagai paham yang menganggap dan menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh akal atau. Ini berarti bahwa sumbangan akal lebih besar dari pada sumbangan indera. Mengenai ilmu, rasionalisme bahwa mustahillah membentuk ilmu hanya berdasarkan fakta, data empiris, atau pengamatan terhadap fakta. Aliran ini disebut-sebut dipelopori oleh Rene Descartes. Rene Descartes adalah seorang filusuf yang juga dikenal sebagai bapak filsafat modern. Salah satu yang paling terkenal dari Descartes adala pernyataannya, yakni Cogito Ergo Sum yang berarti "Aku berfikir, maka aku ada”. Pernyataan inilah yang kemudian menjadi dasar dari aliran Rasionalisme dalam membangun sistem berfikirnya.
Sedangkan terma kritis dalam Rasionalisme kritis dapat dimaknai sebagai kata sifat, yang mensifati kata Rasionalisme. Terma ini dapat juga dihubungkan dengan aliran pemikiran Kritisisme yang juga merupakan salah satu aliran besar disamping Rasionalisme dan Empirisme. Aliran pemikiran Kritisisme merupakan bentuk penyelesaian dari permasalahan yang terjadi antara Rasionalisme dan Empirisme. Aliran ini mengakui peranan akal dan keharusan empiris. Kemudian dicobanya untuk mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (Rasionalisme), tetapi ada pengertian timbal balik dari objek atau benda (empirisme) jadi metode berpikir ini, disebut metode kritis.
Rasionalisme Kritis, pada dasarnya terambil dari tradisi, yang tergambarkan di Yunani, yakni kegiatan diskusi terbuka yang mendiskusikan teori-teori dengan maksud untuk menemukan kelemahan dari suatu teori, agar selanjutnya teori tersebut dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Menurut Popper dalam diskusi semacam itu, para pesertanya harus memiliki sikap yang siap untuk menyimak argumen kritis dan belajar dari pengalaman. Dalam pengertian yang lebih fundamental namun sederhana, Rasionalisme Kritis dapat dimaknai sebagai sikap yang mengakui bahwa; ”I may be wrong, and you may be right, and by an effort we may get nearer to the truth”.
Sesuai dengan yang didefinisikan Popper, Rasionalisme Kritis bergerak untuk memastikan keterbukaan dalam memberi dan menerima kritikan, semata-mata dengan maksud agar teori yang dikritik tersebut dapat berkembang. Dengan kehadirannya ini, teori-teori ilmu pengetahuan menjadi lebih terbuka dengan kritik dan dapat lebih berkembang dan terhindar dari spekulasi. Selain itu dengan prinsip semacam ini pun, ilmu pengetahuan dapat terlepas dari dogma dan kestatisan, atau dengan kata lain menjadi dinamis dan dapat mengalami transformasi.
Kritik Terhadap Induksi
Salah satu permasalahan yang sangat menarik bagi Popper adalah masalah induksi. Karl Popper dengan jelas menolak induksi untuk dijadikan prinsip dalam verifikasi kebenaran ilmu pengetahuan. Prinsip generalisasi yang terkandung dalam induksi, adalah salah satu yang paling bermasalah, menurut Popper. Menurutnya, sangat tidak benar untuk memberikan predikasi yang sama kepada semua A, setelah mengobservasi beberapa atau bahkan sebagian besar A saja.
Dalam pandangan Popper suatu teori tidak dipandang bersifat ilmiah hanya karena bisa dibuktikan kebenarannya melalui verifikasi seperti anggapan positivis, melainkan karena dapat diuji, melalui berbagai percobaan sistematis untuk menyalahkannya. Kemudian apabila suatu hipotesa atau teori dapat bertahan melawan segala penyangkalan, maka kebenaran hipotesa atau teori tersebut semakin diperkokoh, atau yang oleh Popper disebut corroboration. Dalam keseluruhan teori Popper tidak ada yang disebut sebagai kebenaran final atau kebenaran mutlak, yang ada hanyalah corroboration, yang bermakna diperkuat keilmiahannya.
Falsifikasi Sebagai Solusi
Dalam upayanya mengkritisi induksi, Popper tidak sekedar melakukan penyalahan, melainkan juga memberikan solusi. Popper menghadirkan prinsip atau teori falsifikasi untuk dijadikan sebagai solusi dari permasalahan induksi. Prinsip falsifikasi ini berlaku sebagai sistem pembuktian salah dari suatu teori atau hipotesa. Berbeda dengan verifikasi yang mencoba membuktikan benarnya suatu teori atau hipotesa. Menurut Popper sesuatu dapat dikatakan ilmiah, apabila sesuatu tersebut secara prinsipil terdapat kemungkinan untuk menyatakan salahnya (Falsifiable).
Prinsip falsifikasi inilah kemudian yang dijadikan oleh Popper sebagai standar dari demarkasi ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, suatu teori dapat dikatakan sebagai Science apabila dapat dikritisi, atau masih berkemungkinan ditemukan salahnya. Sedangkan teori yang tidak dapat dikritisi atau tidak berkemungkinan ditemukan salahnya, maka teori tersebut dikategorikan sebagai Pseudo-Science. Contoh cara kerja falsifikasi adalah ketika suatu teori diajukan, maka akan ada pengujian kesalahan, ketika teori tersebut dapat dikritisi oleh para saintis lain, maka teori tersebut dikatakan ilmiah. Kemudian apabila teori tersebut mampu bertahan dari setiap kritik tersebut maka, teori tersebut dapat dikatakan diperkokoh atau diperkuat (Corroboration).
Comments
Post a Comment